Sejarah Gereja
Ringkasan Sejarah Jemaat GMIM Sion Tomohon
Dokumen ini merupakan buku sejarah yang disusun dalam rangka
peringatan HUT ke-175 Gereja dan Jemaat Sion Tomohon pada akhir tahun
20141. Penyusunannya dimulai dengan seminar sejarah pada tahun 2008
dan berlanjut hingga penetapan tim penulis pada tahun 20122.
1. Latar Belakang Sejarah dan Pendirian Jemaat (Abad
ke-19 Masehi):
- Awal
Kekristenan: Kekristenan masuk di tanah Minahasa sejak abad ke-16
melalui Gereja Katolik Roma yang dibawa oleh bangsa Portugis dan Spanyol333.
Injil pertama kali diperdengarkan di Minahasa pada tahun 1563 oleh padre
Diego de Magelhaens4.
- Masyarakat
Tomohon Abad ke-19: Masyarakat Tomohon pada awal abad ke-19 masih
menganut agama tradisional yang bersifat polyteistis, animistis,
dan dinamistis5. Upacara keagamaan (foso)
dipimpin oleh Wailan (imam) dan Wailan Wangko (imam agung),
yang memerlukan biaya besar dan sering menghambat masuknya Injil6666.
- Pekabaran
Injil Belanda (NZG): Pada tahun 1829, Minahasa ditetapkan menjadi
lapangan penginjilan oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG)7.
Titik awal kekristenan di Tomohon adalah kedatangan penginjil Ds. Johan
Adam Mattern pada Juli 18388.
- Penetapan
HUT Jemaat: Setelah bekerja keras, Mattern membaptis enam orang pada Desember
18399. Berdasarkan seminar sejarah, tanggal kelahiran
jemaat Protestan Tomohon ditetapkan adalah Desember 1839, dengan
Hari Ulang Tahun (HUT) Jemaat ditetapkan pada 28 Desember101010.
2. Masa Indische Kerk hingga Berdirinya GMIM (1839–1934):
- Jemaat
Kristen Protestan Tomohon ini kemudian berjalan dalam lingkungan Indische-Kerk11.
- Gedung
gereja Protestan pertama di pusat negeri Tomohon dibangun pada tahun 1844
di zaman NZG oleh N.P. Wilken12121212. Gedung gereja yang baru,
yang dibangun dengan konstruksi beton (seperti yang ada sekarang),
ditahbiskan pada 23 Februari 1930, namun belum diberi nama
"Sion"13.
- Berdirinya
GMIM: Pada tanggal 30 September 1934, di Gereja Sion Tomohon
dilaksanakan Upacara Peresmian berdirinya Gereja Masehi Injili Minahasa
(GMIM) sebagai gereja yang bersinode sendiri14. Sejak saat itu,
jemaat ini menjadi salah satu jemaat GMIM, dan Tomohon resmi menjadi pusat
GMIM15151515.
3. Perkembangan Jemaat GMIM Tomohon hingga Menjadi GMIM
Sion Tomohon (1934–Kini):
- Jemaat
GMIM Tomohon: Jemaat ini dikenal sebagai "Gereja Basar"
karena menjadi pusat sinode dan pendidikan (seperti STOVIL), yang pada
awalnya mencakup jemaat-jemaat "desa" (kanisah) di Talete,
Kamasi, Kolongan, Paslaten, Matani, dan Walian16161616.
- Masa
Genting (1942–1945): Selama pendudukan Jepang, jemaat GMIM Tomohon
mengalami masa yang sangat mencekam dan menderita, di mana gedung gereja
di pusat negeri dan kanisah rusak akibat serangan Sekutu17. Namun,
setelah perang, Gereja Besar Tomohon dan kanisah-kanisah dihidupkan dan
diperbaharui kembali18.
- Pemberian
Nama "SION": Gedung gereja di pusat negeri Tomohon mulai
disebut "Gereja Basar"19. Nama "Sion"
baru mulai terpampang di pintu gerbang gedung gereja sekitar tahun 1950
hingga 195320. Nama "Sion" ini kemudian menjadi
nama untuk jemaat GMIM kategorial pada tahun 1971, dan hingga kini dikenal
sebagai Jemaat GMIM Sion Tomohon21.
- Jemaat Kategorial/Fungsional: Pada periode selanjutnya, jemaat ini sempat menjadi Jemaat Kategorial Sion (berdasarkan Tata Gereja 1981) dengan anggota dari lembaga-lembaga pendidikan seperti SPG, PGA, Fakultas Teologi, dan SPK Bethesda23. Kemudian mengalami peralihan menjadi Jemaat Fungsional Sion (Tata Gereja 1990) dan selanjutnya menjadi Jemaat "dalam lingkungan tertentu"24.
Pendeta
Pdt. Max G. Kaleseran
Pendeta Jemaat
Pdt. Meylita Kalesaran-Runtuwene
Pendeta Jemaat
Pdt. Engelbert Ch. J. Merentek
Pendeta Jemaat